Pedagang Gudeg Ini Bagikan Santapan Sahur Gratis Selama Ramadhan

Kontributor Yogyakarta, Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Kompas.com - 21/06/2017, 13:46 WIB
KOMPAS.com/Teuku Muh Guci S Edi Sumaryanto (42) bersama gerobak gudeg miliknya di Jalan Parangtritis nomor 90, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Rabu (21/6/2017)

YOGYAKARTA, KOMPAS.comRamadhan 2017 tinggal menyisakan empat hari lagi. Akan tetapi hal tersebut tak menghilangkan niat Edi Sumaryanto (42) untuk tetap membagikan santapan sahur secara gratis.

Sudah ratusan porsi santapan sahur gratis dibagikan pria kelahiran Yogyakarta selama Ramadhan ini.

Ya, dia adalah pedagang gudeg di Jalan Parangtritis nomor 90, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Aksi sosialnya itu menjadi viral di media sosial lantaran membagikan santapan sahur gratis.

Selama bulan puasa Edi membagikan sahur gratis setiap Sabtu dan Minggu mulai pukul 02.00 WIB . Bukan tanpa sebab, warga Jalan Parangtritis nomor 88 itu membagikan santapan sahur secara cuma-cuma.

Baca juga: Mulai Senin, Pemudik Bisa Lewati Tol Gempol-Bangil Gratis

Ia mengaku terinspirasi nasehat orangtua tentang bersedekah tak akan mengurangi rezeki. Ia pun ingin membuktikannya dengan cara memberikan sahur gratis kepada siapapun.

"Sebetulnya kegiatan ini bukan ingin dikenal atau terkenal, tapi intinya kami ingin berbagi dan bermanfaat untuk bersama. Dalam berbagi ini kami juga tidak membatasi siapa yang bisa makan, kaya atau miskin tidak masalah," ujar Edi ketika berbincang dengan Kompas.com, Rabu (21/6/2017).

Edi mengatakan, ide memberikan sahur gratis itu sudah tercetus sebulan sebelum Ramadan tiba. Lantas idenya itu didiskusikan dengan mertuanya, Suparjilah (57), yang juga menjadi nama warung gudeg miliknya.

"Ternyata direspons dengan baik. Kemudian saya dan keluarga besar menyisihkan rezeki untuk sahur gratis ini. Dan ternyata, apa yang kami lakukan ini juga didukung teman-teman saya,” kata Edi yang sudah berjualan gudeg selama delapan tahun terakhir itu.

Baca juga: Selama Ramadhan, Kios Laundry Ini Terima Jasa Cuci Gratis Ditukar Doa

Edi mengatakan, santapan sahur yang dibagikannya itu hanya boleh dimakan di warungnya. Tak hanya nasi dan lauk pauk yang diberikannya secara gratis, pengunjung warung Gudeg Yu Jilah itu juga mendapatkan teh panas dan kerupuk tanpa biaya sepeser pun.

“Semua makanan kami masak sendiri. Menunya juga tidak hanya gudeg, tapi ganti-ganti. Kadang nasi dan telor, nasi dan daging, banyak variasinya. Sabtu dan Minggu kemarin, kami sediakan rendang ayam,” sebutnya.

Edi mengaku, pada awalnya sahur gratis ini hanya disiapkan untuk beberapa porsi. Pada Sabtu dan Minggu di minggu pertama puasa, ia hanya menyiapkan 50 porsi. Namun, ia menambah jumlah porsi lantaran banyak masyarakat yang kehabisan jatah ketika datang ke warungnya.

“Setelah itu, kami tambah porsinya. Rata-rata 75 porsi. Terkadang kalau sudah habis jatahnya, saya masih tambah juga, tapi menunya nasi gudeg yang saya siapkan untuk jualan Senin sampai Jumat,” tutur Edi.

Selama memberikan sahur gratis Edi mengaku mendapatkan pengalaman yang tak didapat ketika berjualan nasi gudeg di hari biasa. Ia bisa merasakan sahur bersama dengan masyarakat dari berbagai kalangan di warungnya.

Mulai dari masyarakat kurang mampu, mahasiswa sampai warga dari luar Kota Yogyakarta.

Selain itu, ia juga bisa menjadi media bagi masyarakat yang peduli terhadap sesama di bulan puasa ini.

“Dengan apa yang saya lakukan ini, trnyata banyak pembeli yang mampu datang ke warung saya. Mereka ikut sahur gratis di sini, tapi mereka juga mendonasikan uang mereka untuk menambah porsi,” kata dia.

Baca juga: Tradisi Makan Bersama Saat Awal Ramadhan di Yogyakarta...

Edi mengaku akan menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk sahur gratis pada Sabtu (24/6/2017).

Ia melakukannya agar apa yang dilakukannya bermakna lebih di Ramadhan ini. Namun ia belum mau membeberkan sesuatu yang disiapkan di sahur gratis terakhir itu.

“Pokoknya ada sesuatu yang lebih. Silahkan saja datang Sabtu besok,” kata Edi.

Edi menceritakan, aksi sosial yang dilakukannya itu memang baru pertama kali dilakukannya selama berjualan nasi gudeg.

Sebelumnya, ia hanya berjualan gudeg setiap sahur untuk menggnati buka di ppagi hari sampai siang hari ketika hari biasa.

Selain berbagi manfaat terhadap sesama, ia juga ingin menularkan aksi yang dilakukannya kepada pedagang makanan yang tergabung dalam forum komunikasi pedagang kaki lima (PKL).

“Artinya kita jualan itu tidak hanya cari untung saja, tapi juga harus berbuat baik yang bisa dilakukan bentuk apa saja. Saya pun akan melanjutkan aksi ini pada Ramadhan selanjutnya. Mungkin hari dan porsinya bertambah,” tutur Edi. 

Baca juga: Apa Kabar Kicak dan Kacang Kumbon, Takjil yang Hanya Ada Tiap Ramadhan di Yogyakarta?

Kompas TV Tiap daerah punya makanan atau minuman khas yang menjadi pilihan saat berbuka puasa.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKontributor Yogyakarta, Teuku Muhammad Guci Syaifudin
EditorErlangga Djumena
Komentar