Revolusi Maaf Idul Fitri: Kekuatan Melawan Korupsi dan Ketidakadilan

Amir Sodikin
Kompas.com - 24/06/2017, 14:15 WIB
THINKSTOCK -

ESOK hari, kita telah memasuki Hari Raya bagi umat Islam. Idul Fitri diharapkan telah mengembalikan fitrah manusia ke kesucian, fitrah yang tanpa dosa, penuh cinta dan kasih sayang.

Oh iya, jangan lupa, Sabtu (24/6/2017) ini hingga esok dini hari sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri adalah waktu terakhir untuk membayar zakat. Jangan lupa!

Islam memiliki konsep bahwa asal muasal manusia ketika bayi adalah suci dari dosa. Setelah memasuki dunia, bayi yang suci itu pada akhirnya akan dibentuk oleh waktu dan sejarah, yang pada akhirnya manusia bergelimang dengan segala dosa dan kesalahan.

Di Hari Raya nan fitri ini, sudah sepantasnya kita sebagai sesama manusia saling memohon maaf. Sekaligus juga memohon ampunan kepada Allah SWT, atas segala dosa yang telah kita perbuat.

Di Indonesia, ritual minta maaf ini begitu kolosal yang tercermin dari mudik nasional. Jutaan orang bermigrasi dari tempat satu ke tempat lain, mengunjungi sanak saudara, berziarah ke tanah leluhur, untuk mendapatkan satu kata: maaf.

Setelah menunaikan puasa Ramadhan dan setelah saling bermaafkan, umat Islam merasakan kekuatan untuk menuju manusia yang fitri kembali. Bagi yang benar-benar berpuasa karena Allah SWT, telah ada jaminan untuk menjadi manusia yang lebih bertaqwa. 

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, saya yakin konsep manusia kembali fitri dan konsep manusia taqwa ini mampu untuk menjadikan manusia Indonesia lebih baik. Manusia yang mengasihi sesama dan peduli terhadap distribusi keadilan sekitar.  

Baca juga: ?The Power of Maaf?, Jangan Remehkan Kekuatan Maaf

Hasan Askari dalam buku Menuju Humanisme Spiritual, Kontribusi Perspektif Muslim-Humanis (1995) halaman 63, menekankan soal potensi kekuatan fitrah manusia ini. Menurutnya, fitrah adalah tempat penyimpanan bagi kekuatan hidup, kekuatan rasional, dan kekuatan spiritual.

Kekuatan-kekuatan inilah yang kemudian bisa dimanfaatkan, diperkaya, dan ditampakkan pada kebaikan individu dan sosial. Kembali kepada fitrah, berarti mengingatkan kepada kita semua akan potensi kekuatan individu untuk semakin saleh, baik saleh secara individu maupun saleh secara sosial.

Hasan Askari menekankan, setiap manusia dipandang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Inilah gagasan tangggung jawab dalam Islam, bahwa setiap orang akan menyadari apa yang diyakininya dan akan dimintai pertanggungjawabannya atas tindakan-tindakannya.

Dalam debat soal humanisme dan Islam tentang fitrah manusia, Hasan Askari berpendapat, sudah saatnya dua konsepsi ini saling bekerja sama demi keadilan dan persamaan hak asasi manusia di muka bumi ini.

Askari mengutip Al Quran Surat 5 Ayat 85, yang menyatakan kita perlu menangguhkan waktu untuk sementara aneka ragam perselisihan menjadi kerja sama dalam jalan kebaikan.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Pemudik antre menunggu masuk ke kapal Ro-Ro saat puncak arus mudik di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Jumat (23/6/2017). Pelabuhan Merak menargetkan 1.438.550 orang akan menyeberangi lintasan Merak-Bakauheni selama Lebaran tahun ini.
Saya menganggap, pesan ini sebagai pengingat kita untuk senantiasa memandang sebuah peristiwa dari sudut pandang kebaikan untuk manusia. Alangkah indahnya jika setiap kerja, setiap manuver, setiap aksi, setiap kegiatan, didasarkan pada sudut pandang untuk kebaikan sesama manusia. 

Fitrah manusia yang suci dan punya potensi kekuatan untuk menyebarkan kebaikan ini juga selaras dengan ajaran Islam. Islam mengingatkan pemeluknya untuk senantiasa berbuat kebaikan dan mewujudkan Islam yang menjamin keselamatan bagi seluruh penghuni bumi, menjadi agama yang rahmatan lil 'alamin.

Penekanan ini merupakan ide revolusioner waktu itu, mengingat setting zaman lahirnya Islam waktu itu kesewenang-wenangan oleh kelompok suku dominan sudah menjadi hal yang wajar. Penindasan kepada yang lemah dan perbudakan merajalela. 

Asghar Ali Engineer dalam buku Islam dan Teologi Pembebasan ( 1999) halaman 4 memaparkan, semasa Nabi masih hidup dan beberapa dekade sesudahnya, Islam menjadi kekuatan yang revolusioner.

Para sejarawan membuktikan bahwa Nabi sebagai utusan Allah menggulirkan tantangan yang membahayakan saudagar-saudagar kaya di Mekah. Saudagar-saudagar ini berasal dari suku yang berkuasa di Mekah, Quraisy.

Mereka menyombongkan diri dan mabuk kekuasaan. Melanggar norma kesukuan dan betul-betul tidak menghargai fakir miskin.

Orang-orang miskin dan tertindas di Mekah inilah termasuk para budak yang pertama-tama mengikuti Nabi Muhammad SAW ketika beliau mulai menyebarkan ajaran suci Islam. Nabi sendiri seorang yatim piatu dan berasal dari keluarga miskin namun terhormat dari suku Quraisy.

Masih menurut Asghar, Nabi Muhammad SAW melalui dakwahnya menyeru kepada saudagar-saudagar kaya Mekah dengan kalimat yang pasti. Al Quran menyebutkan, "Mereka mengumpulkan kekayaan dan menimbunnya, mereka mengira kekayaannya akan mengekalkannya. Sama sekali tidak! Mereka akan dilontarkan ke dalam neraka Huthamah. Apakah Huthamah itu? Yaitu api yang dinyalakan Allah....(Al Quran:104).

Juga disebutkan dalam Surat 102, "Perlombaan menimbun harta menjadikan kamu lalai, sampai kamu masuk ke liang kubur. Tapi tidak, kamu akan tahu....kemudian pada hari itu kamu akan ditanyai tentang kenikmatan-kenikmatan duniawi."

Emansipasi dalam Islam

Islam sejak awal sudah menekankan adanya emansipasi para budak, emansipasi untuk kaum perempuan, emansipasi semua suku bangsa tak peduli rasnya berasal. Asghar Ali Engineer mengingatkan, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW adalah Bilal, seorang Negro.

Bilal ditunjuk oleh Nabi untuk menjadi muazin, yaitu orang yang ditugaskan melantunkan azan. Waktu itu, dalam konteks masyarakat jahiliah (bodoh), suara azan adalah sebuah ajakan untuk perubahan yang revolusioner.

Untuk menekankan suara azan sebagai suara revolusioner, Asghar Ali Engineer mengutip perspektif dari orang luar lingkaran Islam, yaitu tulisan salah seorang pemeluk Kristen, Raif Khoury, dari Libanon. Raif menggambarkan bagaimana revolusionernya suara azan Bilal di tengah-temah masyarakat yang masih terbelakang saat itu.

Kutipan dari tulisan Raif Khoury ini cukup panjang. Namun, karena isinya yang begitu menggetarkan bagi saya sendiri, izinkan saya untuk mengutip lengkap tulisan Raif Khoury yang disitir Asghar di halaman 5:

"Betapa sering kita mendengar suara azan dari menara di kota-kota Arab yang abadi ini: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Betapa sering kita membaca atau mendengar Bilal, seorang keturunan Abyssinian, mengumandangkan azan untuk pertama kalinya sehingga menggema di jaziirah Arab, ketika Nabi mulai berdakwah dan menghadapi pengaiayaan serta hinaan dari orang-orang yang terbelakang dan bodoh.

Suara Bilal merupakan sebuah panggilan, seruan untuk memulai perjuangan dalam mengakhiri sejarah bangsa Arab dan menyongsong matahari yang terbit di pagi hari yang cerah. Namun, apakah kalian sudah merenungkan apa yang dimaksud dan apa isi dari penggilan itu?

Apakah setiap mendengarkan panggilan suci itu kamu ingat bahwa Allahu Akbar bermakna: berilah sanksi kepada para lintah darat yang tamak itu! Tariklah pajak (zakat) dari mereka yang menumpuk-numpuk kekayaaan!

Sitalah kekayaan para tukang monopoli (koruptor - Red) yang menumpuk-numpuk kekayan dengan cara mencuri (korupsi - Red). Sediakanlah makanan untuk rakyat banyak! Bukalah pintu pendidikan lebar-lebar dan majukan kaum wanita!

Hancurkan cecunguk-cecunguk yang membodohkan dan memecah-belah umat! Carilah ilmu sampai ke negeri China. Berikan kebebasan, bentuklah majelis syura yang mandiri dan biarkan demokrasi yang sebenar-benarnya bersinar." 


Rasanya, apa yang disajikan Asghar Ali Engineer, walaupun dia berada di India, namun masih begitu pas untuk melukiskan kondisi Indonesia yang masih dijerat oleh korupsi di tengah kungkungan kemiskinan.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Pemudik antre menunggu masuk ke kapal Ro-Ro saat puncak arus mudik di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Jumat (23/6/2017). Pelabuhan Merak menargetkan 1.438.550 orang akan menyeberangi lintasan Merak-Bakauheni selama Lebaran tahun ini.
Korupsi telah membelenggu upaya negara untuk mendistrubusikan keadilan ke seluruh penjuru Nusantara. Islam sama-sama menekankan adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Allah menegaskan bahwa keadilan merupakan ukuran tertinggi suatu masyarakat. "Katakanlah: Tuhanku memerintahkan supaya kamu berbuat adil" (Al-Quran, 7:29). "Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil" (Al-Quran 49:9). "Berlakulah adil, dan itu lebih dekat kepada taqwa" (Al-Quran, 5:8).

Oleh karena itu, kata Asghar, arti taqwa di dalam Islam bukan hanya menjalankan ibadah ritual saja. Tanpa keadilan sosial, tidak akan ada ketaqwaan. Dalam bidang sosial, 'adl dan ahsan merupakan konsep-konsep pokok di dalam Al-Quran.

Sebagai catatan, kaum Muslim yang beriman diperintahkan Allah SWT untuk berpuasa agar nantinya menjadi taqwa. Dalam konteks pandangan Asghar di atas, Idul Fitri kali ini, bisa menjadi refleksi bagi kita semua untuk semakin mengecek lagi apakah kita sudah berbuat adil dan baik kepada sesama.

Bagi para penyelenggara negara, Idul Fitri bisa menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa kekuasaan hanyalah alat untuk mendistribusikan keadlian, bukan sebaliknya untuk mengumpulkan kekayaan atau menimbun harta secara korup. Ingat, praktik menimbun harta hasil korupsi diancam dengan neraka Huthamah!

Tulisan ini saya tujukan utamanya untuk mengingatkan kepada diri saya sendiri tentang arti manusia fitri. Saya yang awam dan bodoh, mohon maaf jika masih banyak yang salah dari tulisan ini. Kebenaran hanya milik Allah SWT semata, wallahu a'lam bishawab.

Atas nama pribadi, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Taqobalallaahu minnaa wa minkum, minal aidzin wal faizin. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H. Mari temui Ibu dan Bapak dan keluarga kita yang paling dekat dulu untuk merayakan Hari Kemenangan, peluk mereka dengan tulus dan kasih serta ucapkan maaf selagi kita punya kesempatan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorHeru Margianto
Komentar