Solusi Praktis bila ART Tak Balik

Cahyu Cantika Amiranti
Kompas.com - 04/07/2017, 09:00 WIB
thinkstock/Kurhan Ilustrasi pembersih rumah


KOMPAS.com – Seminggu sebelum dan seminggu setelah Lebaran, umumnya rumah-rumah sudah ditinggalkan Asisten Rumah Tangga (ART) untuk mudik. Tak jarang, ART yang tadinya berjanji akan datang kembali, tiba-tiba memberi kabar tak bisa kembali bekerja. Atau, banyak juga yang menghilang tanpa jejak begitu saja.

Para majikan pun sering kali merasa kelimpungan, terlebih pemilik rumah yang setiap hari harus pergi bekerja. Karena itu, perlu diketahui berbagai alternatif lain yang bisa dipilih untuk menjaga kebersihan rumah saat ART pergi.

Salah satu jasa yang paling populer dipilih untuk menggantikan ART saat Lebaran adalah pembantu infal, yaitu pembantu yang bekerja musiman, antara satu hingga dua pekan. Mereka biasa bekerja saat musim Lebaran untuk menggantikan ART yang sedang pulang kampung.

Sering kali pembantu infal tersebut memasang tarif yang cukup mahal. Pengguna jasa pembantu infal, Gurit, misalnya, mengatakan saat Lebaran tahun ini, harus membayar Rp 100.000 per hari untuk pembantu infal. Dia menggunakan jasa pembantu infal selama delapan hari.

Pembantu infal yang dipekerjakan Gurit mengurus hampir semua pekerjaan rumah tangga, kecuali memasak. Dia menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika, dan membersihkan kamar mandi.

“Saya butuh pembantu infal karena merasa tidak sanggup jika harus membersihkan rumah sendirian. Apalagi, pas Lebaran banyak tamu berdatangan, rasanya cucian piring tak ada habisnya. Jadi, saya ingin istirahat mulai dari hari H+2 Lebaran,” ujar Gurit, kepada Kompas.com, Senin (3/7/2017).

Pembantu infal pun dianggapnya sangat berjasa. Walaupun begitu, dia merasa pembantu infal tidak serajin ART dalam membersihkan bagian detil rumah, seperti halnya pajangan lemari atau kaca jendela.
 
Gurit mendapat pembantu infal dari tetangganya. Dia mengaku lebih percaya mengambil jasa dari orang di sekitar lingkungannya daripada dari penyalur pembantu.

Hal tersebut pun diakui oleh pegawai penyedia jasa pembantu rumah tangga dan baby sitter, serta pembantu infal PT Hadi Jaya, Eko. Menurutnya, jumlah pembantu infal yang mereka salurkan tahun ini menurun dari 100 orang pada 2016, menjadi 30 orang.


thinkstock/Ashva73 Ilustrasi pembersih rumah

“Jika sudah cocok, majikan akan menghubungi langsung calon pembantu tanpa perlu lagi perantara,” ucap Eko, seperti dikutip Kompas.com, Jumat (23/6/2017).

Jasa pembersih rumah daring

Penyalur jasa pembantu infal lainnya, Rinto Sutrisno dari PT Bintang Citra Agency, mengatakan bahwa alasan lain dari menurunnya permintaan pembantu infal adalah semakin menjamurnya jasa layanan online.

“Orang bisa pesan makanan lewat online. Tidak perlu repot-repot masak. Jadi yang biasa dikerjakan pembantu sudah bisa dikerjakan lewat aplikasi,” kata Rinto.

Tak hanya memesan makanan, bahkan aplikasi pun sekarang telah menyediakan jasa layanan bersih-bersih rumah. Go-Clean, misalnya.

Melalui aplikasi tersebut, pelanggan bisa memesan beragam jasa pembersihan rumah, mulai dari mencuci piring hingga membersihkan kamar mandi. Harga yang ditetapkan adalah Rp 35.000–Rp 45.000 per jam, tergantung apakah pengguna menyewa jasa dengan alat atau tidak.

Durasi layanan membersihkan rumah yang disediakan Go-Clean minimal 2 jam. Pelanggan tidak bisa memilih jasa dengan waktu lebih singkat daripada itu,

“Saya merasa sangat terbantu dengan Go-Clean. Kerjanya cepat dan lumayan bersih. Saya pun enggak merasa capek,” ujar salah satu pengguna, Gayatri, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (3/7/2017).

Menurutnya, Go-Clean memberikan hasil yang memuaskan saat membersihkan kamar dan ruang keluarga. Walaupun begitu, dia merasa bahwa jasa daring tersebut kurang bersih saat membersihkan kamar mandi.

“Mereka juga harus diawasi saat bekerja, untuk memastikan mereka membersihkan hingga ke sudut-sudut,” ucap Gayatri.

Laundry kiloan

Ketika ditinggal ART, salah satu pekerjaan rumah tangga yang cukup membebani adalah mencuci baju. Jasa laundry kiloan pun menjadi alternatif yang sangat membantu.

thinkstock/Ingram Publishing Ilustrasi laundry

“Enak pakai jasa laundry kiloan, satu hari udah selesai,” kata salah satu pelanggan laundry kiloan, Asti, kepada Kompas.com, Kamis (3/7/2017).

Dia merasa kian terbantu saat membawa banyak cucian dari pergi mudik kemarin. Setelah pulang ke kampung halaman selama tujuh hari, baju kotor di rumah Asti mencapai lebih kurang tujuh kilogram.

Walaupun begitu, dia mengakui bahwa laundry kiloan pun memiliki kekurangan. Beberapa kali Asti menemukan baju atau kerudung dengan bahan tertentu jadi rusak atau mengkerut karena disetrika dengan suhu tinggi.

Selain itu, imbuh Asti, banyak pula laundry kiloan yang mencampur baju pelanggan dengan pelanggan lain saat dicuci sehingga mudah tertukar. Karena itu, dia menyarankan untuk mencari laundry kiloan yang sudah terpercaya atau direkomendasikan orang lain.

Salah satu laundry kiloan yang memiliki banyak langganan adalah Laundry Tulip di kawasan apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan.  

“Pelanggan tak hanya berasal dari penghuni apartemen, banyak juga dari orang perumahan sekitar sini,” ujar pegawai Laundry Tulip, Ian, saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (3/7/2017).

Jasa laundry kiloan yang buka dari jam 08.00 hingga 22.00 WIB ini melayani penjemputan cucian kotor dan pengantaran baju bersih ke kamar penghuni apartemen. Mereka mengenakan tarif Rp 10.000 per kilogram. Umumnya, mereka bisa menyelesaikan cucian dalam satu atau dua hari, tergantung tingkat keramaian pelanggan.

Khusus untuk Lebaran ini, Ian pun mengakui, jumlah cucian yang diterimanya semakin banyak. Rata-rata setiap pelanggan membawa lima sampai tujuh kilogram baju kotor. Pada H-7 dan H+7 Lebaran, mereka bisa menerima hingga 80 – 90 kilogram per harinya.

Jadi, alternatif apa yang paling menarik minat Anda?

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisCahyu Cantika Amiranti
EditorKurniasih Budi
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM